Langkah kita terhenti karena seseorang yang menghantui.
Semangat kita mati karena takut gagal lagi.
Kita enggan berdoa karena merasa tak layak diampuni.

Itu semua karena kita terlalu merasa memiliki, menjaga, dan melindungi
apa yang seharusnya kita serahkan pada Sang Pengatur Hidup Ini.

Tanpa sadar, kita telah melampaui Tuhan dalam banyak hal.
Memperhitungkan hari esok yang tak pasti hingga ketat pada rencana.
Mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk melangkah.
Melayani orang-orang tercinta tanpa cita-cita yang terarah.
Terlalu dalam menyesali kesalahan hingga hanyut dalam romantika.
Belajar mencintai dengan tulus, tapi terus menerus gelisah.

Sampai ada di titik, kita kehilangan segalanya
dan menyalahkan diri yang tak becus mempertahankannya.
Orang-orang yang dicintai. Daftar mimpi yang telah begitu rapi disusun.
Kesempatan-kesempatan untuk maju. Semuanya pergi.

Jangan salah. Kartini F. Astuti juga mengalaminya, bahkan masih bersitahan dalam ujian yang itu-itu saja: terlalu erat menggenggam yang remeh hingga sulit meraih sinyal-sinyal cinta dari Yang Maha Besar.

Perjuangannya dalam melepaskan serta ilmu dari sahabat-sahabatnya ia tuangkan di buku berjudul Rahasia Melepaskan. Bukan karena ia telah berhasil melepaskan. Tetapi karena ia ingin berjuang bersamamu dalam medan tempur yang sama.

Sebab perjuangan kita dalam melepaskan yang tak sejati mungkin akan berganti pemeran atau keadaan, tapi takkan berhenti sampai mati. Paling tidak, setelah berhasil melewati hampir semuanya, masih ada keangkuhan yang tersisa dan harus dikikis.

Rahasia Melepaskan adalah buku self improvement kedua setelah Rahasia agar Tak Mudah Dilupakan. Menulis, bagi Kartini F. Astuti, adalah cara yang paling aman untuk menertawakan dirinya di masa lalu, lalu menuntunnya seperti anak kecil.

Kamu mungkin akan terkaget-kaget membaca kejujuran yang jarang ia posting di sosial media. Sesuatu yang mahal untuk berdamai dengan diri kita yang begitu rapuh dan lemah.

Apa yang ia lakukan sebenarnya hanyalah untuk membuatmu percaya…

Bahwa manusia memang tak sempurna, bahkan tak kuasa untuk melepaskan segala sesuatu yang salah dalam dirinya, kecuali atas izin Yang Maha Esa.

Apa kata guru-guru kita tentang Rahasia Melepaskan?

"Siapa diri ini yang tak bisa membedakan mana "hak milik" dan mana "hak pakai" semata? Kalau pun aku mengaku bisa membedakan, justru di saat bersamaan, aku sejatinya tak bisa membedakan, karena mengaku bisa membedakan semata fatamorgana. Sebagaimana fatamorgananya mengaku memiliki hak milik, yang setiap detik bisa diambil kembali oleh Sang Pemilik Sejati. Lalu, apa yang kita pertahankan dan perjuangkan selama ini? Semata ketidaksiapan melepaskan atau tidak ada yang senyatanya kita perjuangkan selain bersandiwara seolah-olah memperjuangkan agar bisa mendapat predikat "pejuang" dan bisa berdiri tegak di tengah-tengah orang yang sama-sama melakukan hal yang serupa: tak ada yang siap kehilangan? "
—Kang Maman, Penulis, Notulen ILK, Jurnalis
“Tulisan-tulisan Kartini di buku ini bisa menembus isi hati yang keruh dan berusaha untuk melepaskannya. Pas baca tuh kayak, "Iya, ini lho yang gue rasain juga. Ternyata gue nggak sendirian ya." Buku ini juga secara halus bisa menyadarkan kita bahwa ketika kita sanggup 'melepaskan', justru kita bisa menemukan 'kedamaian' dengan cara masing-masing.”
—Benakribo, Creative Content Creator, Social Media Trainer
“Buku ini mengingatkan kita kembali untuk menjadi manusia yang paling Allah sayangi. Menjadi manusia yang mampu berpasrah atas apapun yang Allah tetapkan. Menjadi manusia yang mampu ridha atas apapun kehendak-Nya hinggga Allah pun ridha kepada kita.”
—Farah Qoonita, Aktivis, Penulis Buku “Seni Tinggal di Bumi”

487 orang hebat telah membaca dan menjadi pengawal buku ini. 

Oh. Kamukah salah satu dari orang-orang hebat itu?

Kami ingin menyampaikan terima kasih tak terhingga. Kami juga ingin mengapresiasi kontribusimu untuk lahirnya karya terbitan pertama kami. Apresiasi ini bisa kamu cek di pesan pribadimu. Ada penawaran khusus dan ekslusif untuk pembelian paket buku ini.

Dan, buat kamu yang baru saja membaca halaman ini tanpa aba-aba dan tanpa ekspektasi apa-apa, kami sarankan buat tidak mengambil resiko untuk tersentuhnya hatimu saat membaca buku ini. Kami tidak bertanggungjawab atas semua gemuruh di dadamu nanti.

Pesan via Tokopedia