9 Langkah Praktis Menulis Buku Fiksi dan Non Fiksi

Menulis buku adalah mimpi bagi kebanyakan orang. Buktinya, beberapa penerbit mayor menerima naskah baru hingga ratusan judul setiap harinya.

Menjadi penulis buku termasuk pekerjaan yang cukup menjanjikan. Bagaimana tidak? Untuk satu buku best seller saja, Anda bisa mendapatkan royalti tiga puluh hingga ratusan juta setiap tahun!

Bagaimana dengan para penulis yang berhasil melahirkan banyak judul buku setiap tahunnya? Bagaimana dengan para penulis buku mega best seller? Anda tak harus menaksir berapa kekayaannya. Yang perlu Anda lakukan adalah memulai mimpi Anda, dari sekarang.

Bisakah Anda menjadi penulis buku yang sukses padahal Anda baru membulatkan tekad? Jelas bisa! Tidak ada kata tua atau terlambat untuk mulai jadi penulis buku.

Mari kita berbicara lebih konkret. Sebuah buku umumnya terdiri dari 200-300 halaman, 10-50 bab. Jika Anda memutuskan ingin menulis buku dengan jumlah 30 bab, berarti Anda hanya perlu menyiapkan waktu dan mental Anda untuk menulis naskah setidaknya 1 bab setiap hari atau sekitar 1.500 kata. Itu jika Anda tidak memiliki pekerjaan tetap.

Dan, Anda butuh waktu hanya 2-3 bulan jika Anda super sibuk di pekerjaan atau rutinitas lain seperti kuliah. Anda bisa kerjakan naskah Anda sepertiga bab setiap hari atau sekitar 500 kata. Jumlah ini kurang lebih seperti jumlah kata-kata pada caption Instagram.

Ini akan jauh lebih mudah jika Anda sudah punya bahan-bahan riset. Jadi, Anda tidak perlu menulis dari nol. Hanya menata. Untuk menata saja, Anda hanya perlu waktu sekitar 10-20 hari. Bagaimana? Terbayang, bukan?

Berikut ini adalah 9 Langkah Praktis Menulis Buku yang bisa langsung Anda terapkan:

1. Suarakan Gagasan dari Hati Terdalam

Gagasan atau ide berasal dari keresahan. Sementara, keresahan bisa digali dengan brainstorming yaitu menumpahkan pikiran dari hati terdalam tanpa membaca tulisan, apalagi mengedit. Tentukan juga buku seperti apa yang ingin Anda wujudkan. Apakah buku non fiksi seperti buku motivasi, buku bisnis, dan buku ajar? Ataukah fiksi seperti novel, kumpulan cerpen, dongeng, dan buku komedi? Anda juga bisa genapkan dengan riset. Perkaya referensi. Simak sejumlah buku atau artikel yang dekat dengan ide Anda. Berdiskusilah dengan beberapa orang ahli jika dibutuhkan untuk memvalidasi apakah keresahan Anda layak dieksekusi.

2. Maksimalkan Kekuatan Premis

Premis adalah inti dari sebuah buku. Setiap buku memiliki premis, baik fiksi maupun non fiksi. Pada buku fiksi, premis berarti tentang tujuan atau misi hidup sang tokoh utama. Sedangkan, pada buku non fiksi, premis berarti tentang tujuan atau misi sang penulis. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini untuk mencapai kekuatan premis: “Fenomena apa yang terjadi belakangan? Masalah besar apa yang sedang ingin ditangani lewat buku? Apa solusinya yang memungkinkan? Seberapa besar tantangannya?”

3. Siapkan Plot Cerita atau Konsep Buku

Pada buku fiksi, Anda membutuhkan plot cerita agar Anda bisa mengatur letak puncak ketegangan. Dari plot ini, akan tercipta kekuatan karakter dan kekuatan musuh. Sedangkan pada non fiksi, Anda membutuhkan konsep yang matang. Sebuah buku tanpa plot atau rancangan konsep hanyalah sekumpulan arsip berantakan yang tidak akan berdampak apa-apa bagi pembaca. Beberapa formula dari para pakar literasi bisa Anda coba untuk merapikan naskah Anda dari mulai Save The Cat, The Hero’s Journey, hingga Mindmapping.

4. Jabarkan Kerangka Buku dengan Kata Kunci

Kerangka sangat penting dalam proses menulis buku. Kerangka akan mengunci ide Anda sehingga saat menulis buku, Anda tidak kesulitan berpikir untuk menemukan benang merahnya. Dalam membuat kerangka buku, Anda perlu mencatat hal-hal penting apa saja dari setiap babnya, baik pesan, dialog utama, atau pun pengingat sumber referensi Anda. Membuat kerangka buku perlu kesiapan dan fokus tanpa banyak distraksi. Anda bisa duduk di depan laptop berjam-jam atau seharian untuk menyelesaikan kerangka buku. Ingat, kerangka inilah yang akan menuntun Anda menuliskan bab demi bab buku Anda.

5. Buatlah Paragraf Pembuka yang Menjanjikan

Membuat paragraf di halaman awal buku perlu trik khusus agar pembaca akan selalu membuka halaman berikutnya dan berikutnya. Sebuah buku yang baik memiliki unsur janji di halaman pertama. Janji ini bisa dilontarkan dengan kalimat-kalimat menjebak. Seperti yang sering kita temukan lewat konten-konten viral belakangan. Pada buku, kalimat-kalimat ini memiliki estetikanya tersendiri. Hindari kalimat klise yang mudah ditebak. Misalnya, kamu ingin menceritakan kasus pencurian dengan menuliskan, “Barangku raib”. Maka, kalimat ini akan membuat pembaca merasa, “Hah? Barang apaan? Kenapa? Emang ada apa? Kok bisa?”

6. Hidupkan Tulisan dengan Berbagai Teori Retorika

Teori retorika sederhananya adalah bagaimana membuat buku Anda menjadi renyah, tidak kaku, dan tidak menggurui. Teori-teori retorika sebagian besar sudah kita pelajari semasa sekolah seperti metafora, analogi, rima, ironi, opini, dialog, dan lain sebagainya. Anda bisa berlatih mengutip sumber-sumber dari internet untuk kemudian Anda alih bahasakan sendiri. Kalau Anda sudah mahir dalam teori retorika, selanjutnya pastikan setiap bagian dalam buku Anda punya variasi retorika sehingga tidak membosankan. 

7. Ciptakan Penutup yang Membekas

Untuk mengakhiri buku Anda, perlu keterampilan menyudahi. Beberapa penulis punya kelemahan dalam mengakhiri tulisannya sendiri sehingga mereka harus menambah bab baru. Agar halaman akhir di buku Anda punya kesan bagi pembaca, buatlah kejutan-kejutan kecil seperti adegan yang tak terpikirkan pembaca atau rangkai kalimat-kalimat yang quotable. Dalam buku fiksi, Anda perlu menentukan dulu apakah akhirnya akan membahagiakan atau menyedihkan. Kemudian, Anda bisa mengatur ritme tulisan menjadi semakin pelan dengan menulis pendek-pendek. Ini membuat pembaca lebih mudah mengingat.

8. Lakukan Penyuntingan secara Mandiri

Menyunting secara mandiri terbilang susah bagi para penulis yang tak terbiasa mengedit atau terlalu sayang pada tulisan sendiri. Menyunting mandiri sangat berguna agar naskah Anda lebih dilirik penerbit sebagai naskah yang matang dan Anda dinilai sebagai penulis buku profesional. Maka, selesaikan naskah Anda dan bacalah ulang dengan lebih teliti. Perbaiki logika kalimat dan kesalahan ejaan yang Anda temukan. Hidupkan grammar bahasamu pada Ms. Word. Bacalah pedoman EBI dan Kamus Besar Bahasa Indonesia lebih sering. Perhatikan dengan mata yang tak lelah dan mengantuk. Penting untuk mengedit dalam keadaan segar.

9. Buatlah Taktik dan Strategi sampai Bukumu Terbit

Apakah setelah merampungkan buku berarti pekerjaan Anda sebagai penulis buku telah selesai? Tentu saja tidak. Anda harus memastikan apakah buku Anda layak jatuh ke tangan pembaca atau tidak. Di langkah terakhir ini, butuh kepekaan untuk menilai sebuah seni. Bagaimana agar naskahmu dilirik penerbit? Apakah rencana gambar di cover sudah jadi representasi isi buku? Bagaimana perjalanan pembaca dalam menerima buku ini pertama kali? Dan, Anda juga butuh memoles diri Anda sebagai penulis buku. Sebab, kemungkinan besar, setelah buku terbit, Anda akan banyak diundang talkshow.

Kesembilan langkah ini merupakan serangkaian metode bernama IMPERFECT yang kami ajarkan di Studio Nulis Buku selama 3 bulan. Metode ini memungkinkan Anda untuk “Selesai Dulu, Sempurna Kemudian”. Kami menyediakan modulnya. GRATIS untuk Anda. Di dalam modul ini, Anda akan dituntun dan dibekali dengan berbagai formula yang akan membantu Anda menyelesaikan buku. Kami merekomendasikan modul ini tidak hanya untuk Anda baca, melainkan langsung Anda terapkan untuk merancang naskah buku Anda.

Jangan lupa, tinggalkan jejak di kolom komentar!

Salam #BicaraPakeKarya